Crypto  

Sengketa Kasus Dugaan Penipuan Coinbase Berlanjut, Permohonan Banding Diterima

Sengketa Kasus Dugaan Penipuan Coinbase Berlanjut, Permohonan Banding Diterima

harian-nasional.com/ – Kisruh terkait tuduhan penipuan yang melanda Coinbase tampaknya belum usai. Permohonan banding perusahaan atas gugatan class action dikabulkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS). Meski begitu, Coinbase tetap berupaya untuk menyelesaikan tuntutan hukum yang ada lewat jalur arbitrase alias di luar pengadilan federal.

Dalam penyelesaian sengketa kasus yang dimaksud, Coinbase menghadapi 2 gugatan. Pertama adalah gugatan atas pengembalian dana kompensasi akibat penipuan. Lalu, yang kedua adalah gugatan atas penipuan yang berkedok undian berhadiah aset kripto tertentu.

Dengan disetujuinya banding, Coinbase pun bisa memberikan pernyataan dan berharap agar penyelesaiannya bisa dilakukan di luar pengadilan alias arbitrase.

/Terkait

Pakar Kripto Peringatkan ‘Badai yang Akan Datang’, bila Inflasi Terus Meningkat

Departemen Kehakiman AS (DOJ) Terpecah Soal Dakwaan Pencucian Uang terhadap Binance

Percepat Adopsi Pound Digital, Inggris Cari Pengembang Dompet CBDC

Ambisi Jadi Pusat Kripto, Inggris Siap Ciptakan Rancangan Regulasi untuk Pembayaran Stablecoin

Bakal Listing di Binance, Harga Token MAGIC Naik Sekitar 80%

5 Indikator On-Chain yang Beri Sinyal Bear Market Bitcoin Segera Berakhir

Arbitrase merupakan proses penyelesaian sengketa di luar pengadilan dengan bantuan pihak ketiga yang disebut sebagai arbiter.

Coinbase sendiri sudah mengajukan arbitrase pada pengadilan dan menghentikan tuntutan hukum yang ada. Hakim sepakat untuk mengkaji kembali dua class action yang diajukan ke Coinbase.

Pengacara Coinbase, Neal Katyal, mengatakan bahwa dirinya bersyukur Mahkamah Agung mengabulkan pemintaan banding perusahaan.

Dalam aturan di Amerika Serikat (AS), Undang-Undang Artbitrase Federal mewajibkan perjanjian yang ditandatangani oleh pelanggan untuk mengajukan tuntutan hukum pada perusahaan dalam arbitrase sesuai dengan kontraktualnya. Jalur penyelesaian sengketa tersebut kerap dipandang sebagai alternatif yang lebih cepat dan efisien ketimbang menyelesaikan gugatan di pengadilan.

Namun, pengacara dari pihak penggugat justru beranggapan bahwa arbitrase lebih banyak menguntungkan perusahaan.

“Di pengadilan, konsumen bisa memiliki lebih banyak kekuatan dan bisa mengajukan gugatan class action atas nama kelompok yang lebih besar,” jelasnya.

Gugatan Pemberian Kompensasi Pencurian

Salah satu gugatan yang dihadapi oleh Coinbase adalah tuntutan pembayaran kompensasi sebesar US$31ribu atau lebih dari Rp500 juta kepada Bielski, yang berdiri sebagai penggugat di Pengadilan California. Kasusnya bermula ketika ada oknum jahat yang meminta akses ke akun Coinbase miliknya dan mencuri dana dalam jumlah besar. Bielski beranggapan bahwa Undang-Undang Transfer Dana Elektronik mewajibkan perusahaan untuk mengembalikan aset kripto pelanggan yang mengalami pencurian.

Sementara itu, gugatan lainnya datang dari mantan pengguna Coinbase yang mengaku mengalami penipuan untuk mengikuti sayembara hingga US$1,2 juta dalam bentuk Dogecoin.

Namun, sebagai salah satu syarat untuk mengikuti gelaran tersebut, setiap orang harus membayar US$100 atau lebih sebagai tanda pendaftaran.

Untuk dipahami, gugatan yang diterima oleh Coinbase bukanlah baru kali ini terjadi. Sebelumnya pada September perusahaan juga menghadapi gugatan atas pelanggaran paten teknologi kripto oleh Veritaseum Capital LLC. Penggugat mengklaim bahwa Coinbase melanggar paten yang diberikan oleh founder Veritaseum, yakni Reggie Middleton.

Mulai dari infrastruktur blockchain untuk melakukan validasi transaksi dan beberapa layanan Coinbase lainnya dituduh melanggar hak paten. Penggugat meminta pengadilan untuk memerintahkan Coinbase membayar ganti rugi senilai US$350 juta.

Pendapatan Coinbase Diproyeksikan Turun 50%

Di tengah banyaknya kasus hukum, kinerja perusahaan juga diprediksi tidak akan cemerlang. Pandangan tersebut bahkan dilontarkan sendiri oleh Chief Executive Officer (CEO) Coinbase Global Inc, Brian Armstrong. Dia menjelaskan bahwa pendapatan perusahaan bisa turun 50% atau lebih pada tahun ini.

Hal tersebut dipicu oleh turunnya harga dan turunnya kepercayaan investor terhadap dunia kripto. Krisis yang melanda FTX membuat banyak orang sangsi atas perkembangan bisnis aset digital.

“Tahun lalu perusahaan menghasilkan pendapatan US$7 miliar dan US$4 miliar pendapatan. Tahun ini, mungkin hanya akan mencapai setengahnya atau kurang,” pungkas Armstrong.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!