Semakin Kuat Kerja Sama dalam Bidang Pertanian, Transfer Teknologi Dilakukan antara Indonesia dan Rusia

harian-nasional.com/ – Negara Rusia atau dengan nama resminya Rossiyskaya Federatsiya merupakan salah satu negara yang mempunyai sektor pertanian yang maju, diamana Rusia melakukan berbagai inovasi guna untuk memajukan sistem pertanian negaranya, seperti meningkatkan metode produksi, peningkatan produksi pertanian, pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkunga, serta menciptakan teknologi-teknologi yang semakin maju, dan masih banyak lagi, yang akan saya bahas pada artikel ini adalah kerja sama dalam bidang pertanian antara Indonesia dan Rusia.

Melihat kemajuan pertanian yang dimiliki Rusia, Indonesia tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Indonesia melakukan kerja sama dengan Rusia. Di awali saat Menteri pertanian Andi Amran Sulaiman menerima kunjungan kerja Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mrs. L. Yudmila.G,Vorobiva, jum’at, 8 Juni 2018. Pertemuan ini membahas kerja sama kedua negara guna memajukan industri pertanian nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kita tahu, kita impor gandum dari Rusia, tapi kita juga ekspor palm oil (sawit), karet, kakao dan beberapa produk pertanian lain ke Rusia.” Jelas Menteri Amran.

Di balik itu masalah sawit kerap menjadi perhatian serius, sebab selama ini masyarakat UEC (Uni European Country) kerap melakukan kampanye negatif (black campaign). Rusia merupakan salah satu negara mitra di Eropa, begitu optimis dengan sektor pertanian di Indonesia dan saling membutuhkan kerja samanya khususnya untuk melakukan counter act terkait sawit (palm oil) di Indonesia.

Tepat pada tanggal 26-28 Juli 2021, di selenggarakan PKTA (Pertmuan Konsultasi Tinggkat Ahli) Bidang pertanian dan perikanan Indonesia dan Rusia secara virtual.

Hasil dari pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari usulan dan kesepakatan kedua negara untuk membahas berbagai persyaratan teknis dan juga menyelesaikan sejumlah isu, serta sebagai upaya solusi bersama atas kendala yang timbul dalam mendoromg upaya peningkatan akses pada distribusi produk pertanian dan perikanan kedua negara tersebut, terlebih pada saat masa-masa pandemi menyerang seluruh dunia.

Dalam pertemuan yang di lakukan, terdapat berbagai sesi diskusi, Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Eropa, Afrika dan Timur Tengah Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian Fajar Wirawan menyampaikan bahwa pertemuan juga ditujukan guna mengidentifikasi upaya atau langkah percepatan penyelesaian sejumlah draft dokumen kesepakatan yang masih tertunda, dan secara spesifik membahas terkait akses produk minyak sawit ke Rusia, dimana masa pandemi di negara tersebut mengalami peningakatan.

Keberlangsungan kerja sama pertanian Indonesia dan Rusia terus berlanjut, melihat kini kemajuan teknologi semakin pesat, Indonesia dan Rusia melakukan transfer teknologi yang di perkirakan akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Macam-macam bentuk kolaborasi yang akan terjalin antara lain yaitu, kerja sama riset, teknik, peningkatan kapasitas SDM (sumber daya manusia), promosi atau penawaran bersama, serta peningkatan pada sektor investasi.

Indonesia dan Rusia telah menyusun nota kesepahaman atau dengan kata lain (MoU) dalam bidang pertanian, MoU tersebut sangat penting bagi kedua negara befungsi sebagai paying hukum untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan kerja sama dalam sektor pertanian, sekaligus menjadi landasan bagi otoritas pertanian antarkedua negara, bertujuan untuk membentuk kelompok tim kerja tingkat pejabat teknis, yang nantinya akan bertugas menyusun reaksi aksi implementasi (rencana action plan) yang bersifat konkret dari berbagai komitmen keeja sama yang telah disepakati bersama.

Duta besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobieva mengatakan bahwa kerja sama dalam bidang pertanian ini akan berjalan dengan biak, meningkat secara ekonomi, serta kedua negara harus dapat mendukung satu sama lain guna mencapai tujuan yang telah direncanakan. ” Indonesia dan Rusia memiliki perbedaan musim dan kondisi alam, sehingga sumber daya alam yang dihasilkan dapat saling melengkapi satu sama lain, seperti kami membutuhkan palm oil (sawit) produk Indonesia, sebaliknya Indonesia membutuhkan gandum dari kami,”” ujar Lyudmila pada saat kunjungan kerja sama.

Berikut sajian data riset terkait ekspor pertanian Indonesia ke Rusia menurut MENTAN (kementerian pertanian), ekspor utama produk pertanian Indonesia adalah kelapa sawit dengan nilai 467 juta dollar AS, kelapa (40 juta dollar AS), kakao (39 juta dollar AS), kopi (37 juta dollar AS), dan karet (32 juta dollar AS). Sementara impor utama Indonesia dari Rusia meliputi gandum dengan milai 16 juta dollar AS, ketumbar (6 juta dollar AS), gula tebu (2 juta dollar AS), obat hewan (3 juta dollar AS), dan sayuran olahan (70 ribu dollar AS), dan masih banyak lagi, termasuk pada sektor energi dan hasil tambang seperti besi , baja, dan timah.

Menteri pertanian Indonesia, Syahrul Yasin Limpo (STY) menyatakan “Indonesia mengalami surplus perdagangan sektor pertanian dengan Rusia sebesar 624 juta dollar AS. Adapun total nilai perdagangan sektor pertanian Indonesia dengan Rusia mencapai 677 juta dollar AS,” jelasnya.

Untuk itu Syahrul berharap dukungan dari Duta Besar Rusia untuk dapat membantu dan menfasilitasi percepatan persetujuan akses pasar beberapa komoditas pertanian Indonesia ke pasar Rusia. “Indonesia adalah negara yang amat kaya akan sumber daya alamnya dan mempunyai potensi sangat baik sehingga kami harap potensi sangat baik sehingga kami harap potensi tersebut dapat bermanfaat bagi Indonesia dan Rusia dalam menjalin kerja sama,”ujarnya.

Dalam sebuah kerjasama pasti ada hambatan, rintangan, bahkan kerugian, hal tersebut di alamai oleh Indonesia dan Rusia, dimana pada saat terjadi konflik antara Rusia dan Ukraina, berimbas pada Indonesia, konflik tersebut berdampak besar kepada Indonesia mulai dari naiknya harga makanan, minyak mentah pupuk, hingga hilangnya potensi ekspor.

Secara geografis jarak antara Indonesia,Rusia dan Ukraina berjarak sekitar 9.500 km lebih, namun perang yang melibatkan kedua negara tersebut mulai berimbas kepada ribuan bahkan jutaan rakyat Indonesia.

Dampak yang paling terasa yaitu pada produksi roti di Indonesia, dimana Rusia merupakan salah satu penghasil gandum terbesar di dunia, tidak hanya pada pembuatan roti, imbas konflik Rusia-Ukraina juga dirasakan petani di plosok karena harga pupuk yang terancam meningkat sangat tajam. Hal tersebut juga di ungkapkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik), pupuk merupakan tiga komoditas utama yang di impor Indonesia dari Rusia selain baja, besi, dan bahan bakar mineral. Pada tahun 2021 indonesia mengimpor pupuk senilai 326,1 juta dollar US dari Rusia, sementara pada Januari-februari 2022 sebesar 95,6 juta dollar US.

Dengan lika liku jalannya kerjasma pertanian Indonesia dan Rusia, di harapkan kedepannya dapat semakin lebih baik, guna memajukan perekonomian antar kedua negara tersebut,terlebih bagi Indonesia yang kini masih dalam posisi negara berkembang.

Seiring meningkatnya daya tanam, mengelola arus migrasi, internal dan internasional, diharapkan menjadi aspek sentral dari aspek tersebut.dan diharapkan kedua negara tersebut melakukan evaluasi terkait penataan ekspor, impor, dan teknologi pertanian yang sedang di lakukan penguatan pada bidang tersebut guna memperlancar kerja sama tersebut.