Sekadar Memar atau Ada Darah Beku di Dalam? Ini Cara Mudah Membedakannya

harian-nasional.com/ – Sebagian besar memar tidak berbahaya karena biasanya disebabkan oleh benturan benda tumpul yang kemudian hilang dalam beberapa waktu. Namun, Anda tetap harus berhati-hati jika ini terjadi. Mungkin awalnya Anda mengira itu memar biasa, tapi ini bisa jadi darah beku yang bisa berbahaya. Jadi, bagaimana Anda bisa tahu kalau ini memar atau darah beku?

Apa itu memar?

Memar terjadi ketika pembuluh darah kecil (kapiler) pecah dan akhirnya menimbulkan perubahan warna pada permukaan kulit.

Kulit yang memar umumnya akan menjadi ungu kehitaman atau kebiruan. Ini biasanya terjadi di lengan atau tungkai kaki, meski memar dapat muncul di bagian tubuh manapun.

Adapun penyebab yang umum adalah benturan benda tumpul pada area yang memar atau karena terjatuh. Meski begitu, kondisi ini juga dapat muncul akibat patah tulang.

Umumnya, memar tak menimbulkan gejala tertentu, selain perubahan warna kulit. Jadi, banyak orang yang tak sadar kalau mereka mengalami luka memar.

Kondisi ini pun umumnya akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa waktu tanpa pengobatan apapun.

Meski begitu, memar yang parah dan disertai dengan pembengkakan dan rasa nyeri bisa menjadi tanda dari kondisi medis yang serius, seperti keseleo yang parah atau patah tulang.

Apa itu darah beku?

Sama seperti memar, adanya darah beku atau gumpalan darah di dalam tubuh sebenarnya hal yang wajar terjadi.

Ini dibentuk oleh trombosit (salah satu komponen darah) sebagai respons tubuh terhadap cedera atau luka terbuka yang mengeluarkan darah.

Dengan begitu, darah tidak akan mengalir terus dan mencegah tubuh mengalami kekurangan darah. Dalam keadaan normal, gumpalan darah ini akan hilang secara alami.

Meski begitu, terkadang gumpalan darah yang terbentuk tidak menghilang secara alami. Bahkan, gumpalan darah juga bisa terbentuk meski tidak ada cedera yang diketahui.

Pada kondisi ini, darah beku yang muncul bisa membahayakan kondisi Anda. Misalnya, darah beku di pembuluh darah vena dapat menghambat aliran darah kembali ke jantung.

Salah satu yang mungkin terjadi adalah trombosis vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT) yang bisa menyebabkan rasa nyeri dan pembengkakan di tungkai kaki.

Kulit di sekitar area terbentuknya darah beku pun umumnya akan menjadi kemerahan atau mengalami perubahan warna yang tampak seperti memar.

Pada kondisi tertentu, darah beku pada DVT bisa terlepas dari lokasi asalnya dan berjalan melalui jantung ke paru-paru, sehingga menghambat aliran darah ke organ tersebut.

Kondisi ini disebut juga dengan emboli paru yang bisa berakibat fatal dan membahayakan kesehatan Anda.

ARTIKEL TERKAIT

HEMOFILIA

Memahami Proses Pembekuan Darah Saat Terjadi Luka

Proses pembekuan darah, atau disebut juga dengan koagulasi, adalah kondisi di mana darah Anda menggumpal untuk menghentikan perdarahan. Kondisi ini bisa jadi hal yang menguntungkan, tapi bisa juga buruk bagi kesehatan, tergantung kondisi setiap orang. Pasalnya, mekanisme pembekuan darah memang diperlukan dalam situasi tertentu. Namun, dapat membahayakan juga. Bagaimana seluk-beluk prosesnya? Komponen dalam proses pembekuan darah (koagulasi) Apa […]

Ditinjau secara medis oleh dr. Charley Simanjuntak, Sp.B., Sub BVE, B.Med.Sc.• just now

Jadi, apakah Anda mengalami memar atau darah beku?

Anda mungkin kesulitan untuk membedakan perubahan warna kulit akibat memar atau terbentuknya darah beku.

Meski begitu, perlu Anda pahami bahwa kedua kondisi ini sebenarnya memiliki gejala yang berbeda.

Memar bisa terjadi di berbagai bagian dalam tubuh dan akan muncul dengan gejala yang sama, di manapun timbulnya luka memar tersebut.

Awalnya, saat memar, kulit akan berwarna kemerahan, kemudian berubah jadi ungu gelap atau biru setelah beberapa jam.

Begitu memar sembuh, warnanya akan mulai memudar dan berubah menjadi hijau kekuningan. Rasa sakit yang mungkin menyertainya pun perlahan mulai hilang.

Mirip dengan memar, darah beku juga bisa terbentuk di manapun. Meski begitu, gejala penggumpalan darah yang menyertainya bisa berbeda, tergantung di mana terbentuknya darah beku tersebut.

Melansir American Society of Hematology, berikut gejala lain dari darah beku tergantung pada lokasi terjadinya gumpalan.

    Jantung: nyeri dada atau dada terasa berat, rasa tidak nyaman di tubuh bagian atas lainnya, sesak napas, berkeringat, mual, atau pusing.

    Otak: wajah, lengan, atau kaki melemah, kesulitan bicara, masalah penglihatan, sakit kepala yang tiba-tiba dan parah, atau pusing.

    Lengan atau kaki: rasa sakit yang tiba-tiba atau bertahap, bengkak, nyeri tekan, dan terasa hangat saat disentuh.

    Paru-paru: nyeri dada yang tajam, jantung berdebar kencang, sesak napas, berkeringat, demam, atau batuk darah.

    Perut: sakit perut yang parah, muntah, atau diare.

Memar dan darah beku juga memiliki faktor risiko yang berbeda

Bukan cuma gejala, faktor risiko antara memar dan darah beku atau gumpalan darah juga berbeda.

Memar umumnya bisa terjadi pada siapapun. Meksi begitu, orang dengan kondisi di bawah ini lebih berisiko mengalami memar.

    Sedang minum obat pengencer darah, seperti warfarin.

    Sedang minum obat aspirin atau ibuprofen.

    Memiliki gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia, penyakit von Willebrand, atau trombositopenia.

    Orang dengan kulit yang lebih tipis dan pembuluh darah yang lebih rapuh, seperti orang tua.

    Kekurangan vitamin C, K, B12, atau folat.

    Penderita kanker, seperti limfoma Hodgkin atau leukemia.

    Mengalami vaskulitis.

    Memiliki penyakit hati.

    Mengalami kekerasan fisik.

ARTIKEL TERKAIT

KELAINAN SEL DARAH PUTIH

8 Orang yang Berisiko Mengalami Penggumpalan Darah (Apakah Anda Termasuk?)

Penggumpalan darah (darah beku) sebenarnya tidak selalu buruk. Sebab, saat tubuh terluka dan berdarah, maka gumpalan darah dapat menghentikan pendarahan dan memulai proses penyembuhan. Namun, gumpalan darah yang terbentuk tidak pada seharusnya, bisa menimbulkan masalah. Siapa sajakah yang berisiko dengan darah beku? Jenis-jenis orang yang berisiko dengan penggumpalan darah Penggumpalan darah yang berbahaya dapat menghalangi darah ke […]

Ditinjau secara medis oleh dr. Charley Simanjuntak, Sp.B., Sub BVE, B.Med.Sc.• Nov 29, 2021

Sementara risiko penggumpalan darah bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti berikut.

    Obesitas.

    Merokok.

    Kehamilan.

    Duduk dalam jangka waktu yang sangat lama.

    Berusia lanjut (di atas usia 60 tahun).

    Memiliki riwayat keluarga dengan penggumpalan darah.

    Mengonsumsi pil KB.

    Menjalani terapi pengganti hormon.

    Mengalami trauma atau operasi.

    Kanker.

    Diabetes.

    Penyakit jantung.

    Tekanan darah tinggi.

    Kolesterol tinggi.

Berdasarkan fakta di atas, Anda bisa mengetahui apakah Anda memar atau memiliki darah beku dengan melihat gejala dan faktor risiko yang Anda miliki.

Namun, bila Anda ragu dengan kondisi yang Anda miliki, silakan berkonsultasi dengan dokter untuk kepastiannya.