Pasokan Kurang, Siap-Siap Harga Minyak Goreng akan Naik

harian-nasional.com/ – Setelah sempat langka sejak dua pekan lalu, pasokan minyak goreng di Pasar Tradisional Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya kini mulai tersedia kembali. Akan tetapi, harga minyak goreng merek Minyakita, yang merupakan minyak goreng kemasan rakyat, justru mengalami kenaikan, Senin, 30 Januari 2023.Hal ini pun dikeluhkan oleh para pedagang dan masyarakat yang membeli minyak goreng . Untuk 1 liter minyak goreng Minyakita, kini dijual Rp15.000 sampai Rp16.000. Padahal, sebelumnya, minyak merek tersebut hanya dijual Rp13.500 sampai Rp14.000 per liter.Para pedagang mengaku bahwa harga beli minyak goreng Minyakita dari distributor naik hingga menembus Rp14.000 per liter. Sebelumnya harga di distributor hanya Rp12.000 per liter.Pedagang minyak goreng di Pasar Tradisional Singaparna, Kokoh (33), mengaku bahwa minyak goreng kemasan rakyat tersebut sempat hilang dua minggu.

Selain memberatkan, kenaikan harga minyak goreng ini juga tanpa sosialisasi sehingga membuat konsumen mengeluh. Bahkan, sebagian memilih membeli minyak curah.Salah seorang pembeli, Nenih (29), mengatakan, harga minyak goreng kemasan rakyat ini kerap mengalami kenaikan akibat berkurangnya pasokan.Padahal, dia sudah menggunakan minyak goreng tersebut karena harganya lebih miring dibanding produk minyak goreng kemasan lain. Ia khawatir, harganya akan semakin mahal menjelang bulan puasa dan Lebaran.”Sehari, saya bisa habis 10 liter untuk usaha gorengan. Akan tetapi, kemarin sempat kesulitan mendapatkan minyak goreng , katanya pasokan berkurang,” kata warga Sariwangi ini.

Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan, pemerintah dan produsen siap menambah suplai minyak goreng kemasan dan curah sebanyak 450.000 ton per bulan selama tiga bulan, yaitu Februari-April 2023.”Untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng menjelang puasa dan Lebaran yang kian meningkat, pemerintah dan produsen minyak goreng akan meningkatkan pasokan minyak goreng program domestic market obligation (DMO) sebanyak 450.000 ton per bulan selama tiga bulan, yaitu pada Februari-April 2023 atau terjadi peningkatan sebesar 50 persen dari DMO bulanan yang dialokasikan sebesar 300.000 ton per bulan,” ujar Zulkifli.Zulkifli menyampaikan, upaya tersebut dilakukan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat jelang puasa hingga Lebaran 2023.

Menurut Zulkifli, produsen minyak goreng juga telah menyatakan komitmennya untuk meningkatkan pasokan DMO minyak goreng di dalam negeri.Dia juga akan memastikan kecukupan suplai minyak ke pasar-pasar rakyat dan ritel-ritel modern di seluruh Indonesia.”Kami akan memastikan pendistribusian dan pemenuhan sesuai HET dalam waktu satu minggu ke depan di seluruh wilayah Indonesia. Kami juga akan memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan pendistribusian minyak goreng , baik kemasan merek Minyakita maupun curah di pasar rakyat maupun ritel modern di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Zulkifli.

Selain harga minyak goreng , harga komoditas beras di Pasar Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya juga mengalami kenaikan sejak sepekan terakhir.Naiknya harga beras itu diduga karena para petani di wilayah Tasikmalaya mengalami gagal panen.Diketahui, harga beras mengalami kenaikan antara Rp1.000 sampai Rp2.000 per kilogram. Bahkan, akibat pasokan berkurang, kini untuk beras murah yang dulu kerap dijual seharga Rp9.000 sampai Rp10.000 per kilogram, kini di lapak penjual beras diketahui kosong.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Singaparna, Surya (42), mengungkapkan bahwa harga beras naik berkisar Rp1.000 sampai Rp2.000 per kilogramnya. Seperti harga beras medium yang semula dijual Rp10.000 per kilogram kini menjadi Rp11.500 kilogram. Untuk beras premium, kini menembus Rp 12.000 per kilogram.Sementara itu, harga beras kualitas paling baik kini mencapai Rp13.500 per kilogram.”Malahan untuk beras yang kualitas medium kini sudah enggak ada di pasar karena pasokannya kurang. Kini untuk semua beras sudah pada naik,” kata Surya.Diakui pedagang, harga beras berangsur naik setelah bahan bakar minyak naik beberapa waktu lalu. Selain itu, kegagalan panen para petani di sejumlah tempat turut memicu kenaikan harga beras.***