Crypto  

Metallica: Ada Social Media Impersonation yang Mengincar Kripto Para Penggemar

Metallica: Ada Social Media Impersonation yang Mengincar Kripto Para Penggemar

harian-nasional.com/ – Metallica, band heavy metal asal Amerika Serikat (AS), memberi peringatan di akun Twitter resminya (@Metallica) bahwa terdapat penipu kripto yang menyamar menjadi grup band tersebut (social media impersonation).

Besarnya nama Metallica ingin dimanfaatkan oleh penipu untuk mendulang keuntungan dengan cara yang tidak sah. Hal itu membuktikan bahwa kejahatan keuangan tidak memandang sektor usaha, karena nyatanya para penjahat saat ini tengah mengincar para metalhead.

Melalui utas Twitter-nya, Metallica mengungkapkan bahwa sisi buruk dari media sosial mulai terlihat. Terdapat aksi kejahatan yang menggunakan modus social media impersonation dengan berpura-pura menjadi Metallica. Penipu tersebut menggelar giveaway kripto di kanal YouTube dan mengarahkan korban untuk masuk ke lama palsu. Tujuannya tak lain adalah demi mendapatkan kredensial lewat skema phishing.

/Terkait

Departemen Kehakiman AS (DOJ) Terpecah Soal Dakwaan Pencucian Uang terhadap Binance

Percepat Adopsi Pound Digital, Inggris Cari Pengembang Dompet CBDC

Ambisi Jadi Pusat Kripto, Inggris Siap Ciptakan Rancangan Regulasi untuk Pembayaran Stablecoin

Bakal Listing di Binance, Harga Token MAGIC Naik Sekitar 80%

5 Indikator On-Chain yang Beri Sinyal Bear Market Bitcoin Segera Berakhir

Sengketa Kasus Dugaan Penipuan Coinbase Berlanjut, Permohonan Banding Diterima

“Itu adalah penipuan. Mereka melakukan siaran di YouTube Channels dengan berpura-pura menjadi kami. Perhatikan bahwa seluruh akun media sosial kami sudah terverifikasi dan pastikan setiap interaksi yang dilakukan di media sosial melalui akun resmi,” jelas akun Twitter resmi Metallica.

Hal itu mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Sebenarnya, bagi seseorang yang berkecimpung di komunitas kripto, pasti sudah bisa menebak bahwa hal yang dilakukan oleh penjahat tersebut adalah penipuan.

Akan tetapi, bagi para metalhead muda yang memang belum terbiasa dengan dunia internet, bisa saja menjadi korban dari aksi tersebut.

Selain Metallica, SBF Juga Pernah Jadi Korban Modus Serupa

Penipuan dengan video palsu juga pernah meniru co-founder dan mantan CEO FTX, Sam-Bankman Fried (SBF). Pada bulan lalu, kala kekacauan kerajaan kriptonya baru saja terjadi, muncul sebuah video SBF yang mengatakan bahwa dia bisa membuat dana pengguna kembali utuh lewat mekanisme giveaway.

Uniknya, akun penyebar video palsu tersebut merupakan akun Twitter yang terverifikasi alias centang biru. Dalam video tersebut SBF mengatakan bahwa FTX bangkrut, tetapi bisa memberikan kompensasi atas kerugian dengan menyiapkan hadiah.

Alur yang dilakukan juga sama dengan yang dialami oleh Metallica. Penipu mengarahkan calon korbannya ke laman palsu, lalu melakukan phishing. Adapun laman palsu yang dimaksud memiliki alamat ftxcompensation.com.

Penjahat memanfaatkan psikologis korban yang menderita dan berharap uangnya bisa segera kembali pasca keruntuhan FTX. Tak dimungkiri, memang modus seperti demikian merupakan modus umum yang digunakan oleh banyak penjahat keuangan.

Evolusi Modus Penipuan Kripto

Selama periode 7 bulan pada tahun 2021 dan 2021, sekitar US$2 juta dana pelanggan berhasil digondol lewat Twitter. Nama besar lainnya, seperti Elon Musk, turut dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan sebagai materi video palsu dan menggunakan modus giveaway.

Perusahaan keamanan blockchain CertiK sudah mengendus hal tersebut. Dikatakannya, pola pencurian juga mulai berubah dari awalnya memanfaatkan celah dalam kerentanan desain blockchain ke penggunaan media sosial sebagai alat untuk memperkuat aksi penipuan berbasis kripto.

Kepala Eksekutif CertiK, Ronghui Gu, mengatakan peretasan yang melibatkan NFT Bored Ape Yacht Club (BAYC) dengan menyusup ke akun Instagram resmi mereka. Aksi peretas yang memberikan tautan ke laman palsu untuk mencuri dompet nasabah adalah hal baru.

Berikutnya, Gu menjelaskan bahwa pencurian yang terjadi tidak hanya terjadi di Instagram, Twitter ataupun Facebook. Platform diskusi yang biasanya dimanfaatkan untuk mengelola komunitas, yakni Discord dan Telegram, ikut menjadi lahan subur bagi tindak kejahatan berbasis kripto.

“Perusahaan melihat, serangan dan peretasan di Web3 dan industri blockchain semakin banyak. Tetapi, banyak juga di antaranya yang memiliki bentuk serangan baru,” tuturnya.

Dibidiknya media sosial sebagai ladang baru wadah pencurian kripto bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, perusahaan aset digital menggunakan luasnya cakupan media sosial untuk memberikan informasi terkait proyek ataupun perkembangan lainnya ke pengguna melalui kanal maya tersebut.

Celakanya, penjahat keuangan juga jeli dalam melihat peluang itu dan malah menganggapnya sebagai sarana untuk menguras dompet pelanggan.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!