Jangan Terburu-Buru Mengambil Franchise, Pertimbangkan 4 Kemungkinan Ini

Jangan Terburu-Buru Mengambil Franchise, Pertimbangkan 4 Kemungkinan Ini

harian-nasional.com/ – Saya sempat membaca curhatan hati seorang pelaku usaha tentang bisnis yang tengah digeluti. Dirinya memiliki franchise sebuah minuman yang sempat naik daun.

Sayang bisnisnya tidak berjalan sesuai ekspetasi atau kalkulasi yang disampaikan oleh manajemen pemilik. Diawal bisnis, pihak manajemen pemilik memberikan kalkulasi bahwa per hari bisa laku lebih dari 150 Cup/gelas. Sayang di lapangan, menjual 30 Cup sehari saja sudah tergolong banyak.

Alhasil bisnisnya terasa merugi karena biaya operasional jauh lebih besar dibandingkan pemasukan. Jangankan berharap modal balik segera, mendapatkan pemasukan untuk menutupi biaya operasional harian saja harus kerja keras.

Kasus seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Namun sayangnya banyak pelaku usaha salah perhitungan atau terjebak dengan iming-iming sehingga mau menjalankan bisnis franchise yang akhirnya berujung buntung. Sebelum hal ini terjadi lagi. Ada 4 hal yang patut dipertimbangkan terlebih dahulu.

# Jangan Tergiur Usaha Viral

Kita mungkin akan mudah tergiur ketika melihat suatu usaha yang baru muncul tapi sudah populer. Bahkan mampu membuat pelanggan rela mengantri hanya untuk mendapatkan produk yang tengah viral.

Teringat sebuah produk es yang dibuat dari produk coklat. Produk ini viral beberapa tahun lalu bahkan ketika ada satu pelaku usaha yang menjual produk ini pasti akan ramai. Ini karena produk ini menargetkan anak-anak hingga orang dewasa sebagai pangsa pasar.

Tidak butuh lama banyak orang berbondong-bondong menjalankan usaha sama dengan sistem franchise. Namun ternyata kurang dari 1 tahun, usaha ini justru mengalami penurunan dari sisi omzet. Satu per satu bisnis ini gulung tikar dan hingga saat ini saya tidak melihat lagi usaha es ini di sekitar saya.

Kesalahan yang kerap terjadi, masyarakat mudah tergiur dengan usaha yang viral. Bagi mereka usaha viral akan mudah mendatangkan pelanggan dengan cepat dan banyak. Ini memang benar terjadi namun kerap mengabaikan pertahanan peluang dimasa depan.

Saya justru tertarik dengan usaha yang tidak viral namun sudah berdiri di atas. Artinya usaha tersebut bukan usaha dadakan dan mampu bertahan dengan berbagai hambatan yang ada.

Biasanya usaha ini sudah memiliki pangsa pasar jelas dan customer loyal. Customer loyal terjadi ketika mereka puas dengan standar pelayanan, produk yang dijual serta hal-hal internal lainnya. Justru franchise seperti ini yang justru bisa bertahan lama.

# Ambil Momen Dengan Cepat

Sudah terlanjur terpikat dengan franchise yang tengah viral? Saran saja segera ambil momen dengan cepat.

Contoh kini usaha Mixue tengah naik daun. Setiap outlet yang dibuka rata-rata ramai dikunjungi pembeli. Teman saya tertarik bergabung dalam franchise. Strategi yang dilakukan ia sudah bergabung ketika usaha ini baru naik daun.

Tujuan agar dirinya bisa mendapatkan keuntungan dari bisnis yang viral. Ketika tengah viral dan ramai pengunjung, perputaran omzet akan tinggi. Tentu ini akan membuat biaya balik modal cepat terjadi.

Kesalahan ketika kita justru mulai bergabung ketika usaha tersebut sudah memasuki puncak viral. Ibarat dalam teori bisnis, memulai usaha sangat baik dilakukan saat fase bertumbuh karena peluang memperluas pasar sangat besar.

Ketika baru masuk ketika fase puncak atau dewasa maka cenderung sudah mulai bermunculan kompetitor. Kompetitor sesama franchise atau kompetitor lain dengan bisnis serupa.

Ibarat pasar konsumen seperti kue tart. Ketika masih sedikit pemain bisnis maka kita bisa mendapatkan porsi kue ukuran besar. Namun ketika sudah muncul banyak pesaing. Sepotong kue itu akan terbagi rata. Jangan kaget kita akan mendapatkan porsi kecil.

Alhasil keuntungan yang didapat tidak akan besar dibandingkan yang memulai franchise ketika baru muncul atau mulai dikenal publik.

# Pahami Varian Produk Dan Kelebihan Franchise

Kita juga perlu menempatkan diri di posisi konsumen. Tentu kita ingin membeli produk yang menawarkan beragam varian seperti rasa, bentuk, jenis produk atau lainnya.

Ini karena karakter konsumen yang kerap bosan jika hanya terdapat 1 varian produk atau konsumen tipe penasaran. Ketika sudah pernah membeli maka ia tidak akan berkunjung lagi.

Contoh kita tertarik franchise minuman es teh layaknya yang banyak tersedia di mal atau pusat perbelanjaan. Produk yang dijual hanya minuman teh. Bisa jadi kita hanya ingin membeli sekali saja.

Berbeda dengan kasus kedai kopi di ada di daerah saya. Kedai ini merupakan usaha franchise. Namun yang menarik, kedai ini tidak hanya menjual varian minuman kopi. Namun juga ada teh, hingga es boba. Bahkan ada menu cemilan seperti toast, burger dan roti bakar. Jadi ketika bosan minum kopi, bisa memesan es boba serta cemilan.

Bahkan suasana yang nyaman untuk nongkrong membuat usaha ini selalu ramai khususnya di malam hari atau saat akhir pekan. Khususnya dari kalangan anak muda dan pelajar.

# Pelajari Sistem Manajemen Bisnis

Ini sangat penting agar kita tidak terlena dengan ucapan janji manis dari pemilik franchise. Tidak ada salahnya kita mempelajari sistem manajemen bisnis.

Contoh sederhana bagaimana pemilik franchise menempatkan partner dalam bisnis mereka. Jika pemilik hanya berorientasi mencari keuntungan sepihak dengan gencar mencari partner bisnis tanpa memiliki kejelasan bisnis dimasa depan. Sebaiknya kita perlu berpikir berulang.

Amati apakah ada pelatihan SDM dan teknik pemasaran dari manajemen pemilik? Ini penting agar standar pelayanan pelayanan sama sehingga tidak ada yang membandingkan antar outlet. Perhatikan juga apakah pemilik franchise aktif mempromosikan produknya?

Kadang pemilik hanya gencar promosi saat awal bisnis. Ketika sudah banyak mitra franchise, pemilik mulai ogah melakukan promosi. Alhasil konsumen menjadi tidak bertambah dan justru melupakan usaha ini.

Mitra franchise selalu berharap usahanya tetap ramai namun mereka butuh dukungan pemilik franchise untuk gencar dalam promosi. Ketika hal ini tidak terjadi, sebaiknya pertimbangkan ulang rencana franchise. Bisa jadi kita gigit jari karena franchise mulai kehilangan konsumen.

***

Banyak pemilik modal menyukai menjalankan bisnis dengan menjadi mitra franchise. Ini karena mereka tidak perlu dipusingkan dengan urusan promosi, mencari pasar, bahan baku, hingga pelatihan SDM.

Mengandalkan bisnis yang tengah naik daun, pemilik modal merasa sistem franchise sangat menggiurkan. Ironisnya tidak sedikit yang merasa menyesal karena salah perhitungan dan analisa. Sebelum itu terjadi, 4 hal di atas bisa jadi pertimbangan.

Semoga Bermanfaat

–HIM–