Fokus Jaga NPL, BNI Optimistis Hadapi 2023

Fokus Jaga NPL, BNI Optimistis Hadapi 2023

harian-nasional.com/Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) optimistis dalam menghadapi 2023 yang disebut penuh tantangan. Untuk menghadapi tahun menantang tersebut BNI akan berfokus pada pengelolaan Non performing loan (NPL).

Direktur Network & Services PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ronny Venir menyebutkan tetap optimistis menyambut 2023 meski ada berbagai ketidakpastian. Pasalnya, perekonomian Indonesia disebut masih ‘tahan banting’ dibandingkan negara lain.

Dengan kekuatan konsumsi domestik, ekonomi Indonesia dinilai masih tetap akan tumbuh positif, terutama di sektor keuangan.

“Terutama di perbankan, loan juga akan tetap tumbuh. Tentu tantangan di pada 2023 bagaimana kita akan menjaga loan supaya lebih baik karena pasca Covid-19 tentu saja menjadi PR bagi perbankan,” ungkap Ronny dalam CNBC Indonesia Award 2022, Senin (12/12/2022).

Seperti diketahui per kuartal III-2022, penyaluran kredit BNI mencapai Rp 622,6 triliun atau tumbuh Rp 9,1 triliun. Capaian ini juga turut menopang laba bersih BNI yang tumbuh Rp 13,7 triliun atau naik 76,8% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Adapun penyaluran kredit BNI berfokus pada segmen berisiko rendah, debitur Top Tier di setiap sektor industri prospektif, serta regional champion di masing-masing daerah. Diharapkan, eksposur kredit berkualitas tinggi ini berdampak pada perbaikan kualitas kredit dalam jangka panjang.

Sementara itu, kinerja pertumbuhan kredit didorong oleh kredit korporasi swasta yang mencapai Rp 211,9 triliun atau tumbuh 20,4%, kemudian segmen large komersial tercatat sebesar Rp 49,4 triliun tumbuh 22,3%.

Sedangkan pada segmen kecil, pertumbuhan terutama pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tercatat sebesar Rp 51,3 triliun atau naik 24,3%, segmen konsumer mencapai Rp 106,9 triliun atau naik 11,3% dengan pertumbuhan terutama pada produk payroll loan.

Pada kuartal III-2022, BNI juga menurunkan pencadangan seiring dengan turunnya rasio NPL. Pembentukan pencadangan kerugian penurunan nilai bank ditekan menjadi Rp8,9 triliun atau turun 35,3% yoy.

Sementara itu, rasio NPL gross bank turun dari 3,81% menjadi 3,04%. Kemudian rasio NPL net turun dari 0,9% menjadi 0,57%.