FIRST DRIVE: All New Kia Carens, Kemasan Perpaduan Kepraktisan MPV dan SUV

harian-nasional.com/ – JAKARTA – Semakin pesatnya perkembangan tren model SUV (sport utility vehicle) yang populer di dunia membuat pabrikan otomotif beradaptasi mengikuti selera pasar. Bahkan model yang sejatinya MPV (multi purpose vehicle) belakangan banyak yang mengadopsi elemen gaya SUV. Termasuk Kia Carens terbaru yang sejak awal lahir sebagai MPV, generasi terbarunya bergaya SUV dan sudah melenggang di pasar Indonesia.

PT Kreta Indo Artha (KIA) menjual Carens dalam dua varian. Trim atas ditenagai mesin 1.4 liter turbo dan transmisi DCT. Sementara bawahnya menyandang 1.5 liter naturally aspirated dengan padanan girboks IVT. Nah, yang terakhir bisa menjadi penarik minat pasar lebih besar. Banderol Rp 389 juta membuatnya masuk dalam teritori LSUV sekelas Mitsubishi Xpander Cross dan Honda BR-V. Memang jadi termahal, tapi punya beberapa keunggulan tersendiri.

Beruntung mendapat kesempatan menjajal varian 1.5L. Sebab publik Tanah Air sudah semakin familiar dengan mesin Smartstream 1.5 liter bawaannya. Lebih dulu bersemayam di Kia Sonet, Hyundai Creta dan terakhir Hyundai Stargazer. Semuanya saling terkait. Bahkan memakai K Platform juga seperti Kia Seltos serta Hyundai Alcazar di Negeri Bharata. Tentu sudah terbayang kesamaan karakter antara semua model. Yang pasti punya benang merah serupa dalam rasa.

Desain baru seolah benar-benar mencampuradukkan MPV dan SUV. Cukup mengejutkan, karena tidak begitu atraktif dibanding rancangan model Kia lain. Bentuk headlamp unik dan terkesan rumit, seperti Kia Sportage terbaru tapi sangat berbeda. Grille Tiger Nose jadi terlalu kecil tak lagi mendominasi wajahnya. Melihat samping, ada yang janggal. Garis atap rata membuat windshield hingga kaca pilar B tampak begitu besar. Kurang proporsional sebagai SUV, justru masih terkesan MPV.

Setengah bodi ke bawah, berkarakter SUV. Terutama dari cladding hitam di sekeliling bodi. Tapi masih kurang jangkung disebabkan wheel arch tak terlalu besar. Begitu pula ban 205/65 membalut velg ring 16. Malah terlihat kecil tertelan bodinya yang besar. Perlu dipahami juga, akan sulit membedakan mana varian turbo atau bukan. Dari luar tampak sama semua. Tanpa emblem maupun penanda identitas lain.

Baru bisa dikenali saat memasuki interior. Khususnya kursi baris kedua, karena hanya varian 1.4L Turbo yang diberi captain seat. Sekaligus sebagai penanda segmen lebih tinggi untuk konsumen pengincar mobil keluarga Rp 400 jutaan. Sedangkan varian 1.5L model standar. Sehingga menjadikannya mobil 7-seater sejati. Justru kalau lebih sering membawa banyak penumpang tipe ini lebih cocok. Akomodasi terbilang bagus malah seperti MPV. Apabila kursi baris ketiga dilipat mampu menghasilkan luas kargo 645 liter. Diberikan juga meja lipat untuk penumpang baris kedua. Lalu, seluruh varian Carens sudah diberi lapisan kulit sintetis.

Meski menyandang platform sama dengan Seltos, desain interior mayoritas berbeda. Komponen serupa hanya bisa dikenali dari lingkar kemudi dan tuas transmisi. Sementara dashboardnya berbeda total dan tampil lebih mewah. Disebabkan pemakaian panel piano black diberi aksen gradien serta berpadu ambient light dapat diubah-ubah warnanya. Makin menarik, head unit monitor tertanam rapi di bagian tengah. Berukuran 8-inci yang tampilannya persis seperti milik Hyundai Stargazer. Tentu saja termasuk koneksi Android Auto dan Apple CarPlay.

Tapi Stargazer tak punya beberapa fitur ini. Alunan suara musik terdengar lebih merdu berkat Audio System dari Bose. Kedua varian juga dilengkapi sunroof. Dan terpenting ventilated seat di kedua kursi depan. Ini penting untuk negara tropis seperti Indonesia. Hembusan angin AC keluar dari kisi-kisi punggung dan menambah rasa sejuk.

Dari fitur keselamatan, jangan berharap ada peranti berbasis ADAS seperti Hyundai SmartSense. Berarti kalah lengkap dibanding Honda BR-V plus Honda Sensing yang Rp 40 juta lebih murah. Jadi, Carens 1.4L Turbo dan 1.5L tidak punya sistem Lane Keep Assist hingga Blind Spot Monitoring. Cukup mengandalkan 6 titik airbag, ABS, EBD, BA, ESC, HAC dan DBC.

[related by="category" jumlah="2" mulaipos="10"]

Nah, DBC atau Downhill Brake Control justru tersedia walau mobil ini bukan untuk mengarungi medan off-road berat. Setidaknya memberi rasa aman saat menuruni turunan curam. Saat bekerja, DBC mampu menahan laju mobil pengemudi perlu menginjak pedal rem. Kemudian Kia memberikan sensor parkir tak hanya di belakang, tapi juga area depan.

Rasa berkendara Carens tipikal Kia dan Hyundai masa kini. Bantingan lembut dan berisi, sesuai kiblat karakter mobil Eropa. Meski menjadi SUV, kenyamanan tetap seperti MPV. Apalagi ditambah ground clearance 195 mm dan ban profil tebal, menghantam lubang atau kasarnya jalanan mampu diredam dengan maksimal.

Sayang waktu pengujian sangat singkat. Kestabilan di kecepatan tinggi belum bisa dirasakan. Terutama merasakan bobot kemudi yang seharusnya semakin berat seiring pertambahan laju. Sebab ketika berjalan santai teras sangat ringan dan polos. Alias minim feedback sehingga kurang terasa mantap. Respons juga tak selincah Seltos maupun Stargazer. Alhasil kurang lincah serta cekatan untuk bermanuver.

Varian mesin 1.5 liter ialah tipe Smartstream, Gamma II, DOHC Dual CVVT. Juga menjadi sumber performa Kia Sonet, Hyundai Creta dan Stargazer. Menghasilkan 113 hp dan torsi maksimal 144 Nm. Tersalur ke roda depan oleh transmisi IVT. Di atas kertas, termasuk output terbesar di kelasnya. Untuk pemakaian harian sangatlah cukup. Tidak perlu usaha berat untuk membopong bodinya dan seharusnya efisien juga. Dipadukan IVT yang selalu memiliki respons sigap mirip matik konvensional. Ditambah 3 mode berkendara (Eco, Normal dan Sport) untuk disesuaikan kebutuhan.

Rasanya varian 1.5L NA sudah lebih dari cukup untuk daily driven. Terutama untuk menghadapi kepadatan lalu lintas sehari-hari. Mesin berturbo dan transmisi DCT pastinya bakal mubazir. Sekarang tidak menilai value yang didapat dari banderol Rp 389 juta. Memang termahal dibanding New Mitsubishi Xpander Cross dan Honda BR-V. Tapi ada beberapa kelebihan tersendiri yang tidak dimiliki lawannya. Bisa dilihat dari sudut pandang fitur, desain, ataupun eksklusifitas merek non-mainstream.(ANINDIYO PRADHONO / WH)