Dolar bertahan kuat setelah data pekerjaan AS melonjak, yen jatuh

Dolar bertahan kuat setelah data pekerjaan AS melonjak, yen jatuh

harian-nasional.com/ – Dolar AS bertahan menguat di sesi Asia pada Senin sore, setelah laporan pekerjaan AS yang melonjak mengisyaratkan Federal Reserve bisa tetap hawkish lebih lama, sementara yen terpukul oleh berita bahwa Deputi Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ) Masayoshi Amamiya disuarakan akan menjadi gubernur berikutnya.

Surat kabar Nikkeimengutip pemerintah anonim dan sumber partai yang berkuasa, melaporkan bahwa pemerintahan Perdana Menteri Fumio Kishida sedang dalam tahap akhir untuk memutuskan pengganti gubernur saat ini Haruhiko Kuroda bersama dengan dua wakil gubernur baru.

Dalam konferensi pers pada Senin, Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihiko Isozaki mengatakan tidak ada kebenaran dalam laporan Nikkei.

Yen melemah 0,42 persen menjadi 131,75 per dolar, setelah menyentuh posisi terendah tiga minggu di 132,60 di awal sesi.

“Amamiya telah membantu Kuroda sejak 2013 dalam kebijakan moneter, dan dianggap paling dovish di antara para pesaing, yang menghancurkan harapan bahwa normalisasi kebijakan BoJ dapat berkembang di bawah ketua baru,” kata ahli strategi Saxo Markets.

Pengaturan kebijakan BoJ yang longgar telah menuai kritik dari banyak kalangan, termasuk politisi oposisi dan pedagang, karena mendistorsi fungsi pasar.

Amamiya memainkan peran kunci dalam menyusun program pembelian aset Kuroda pada tahun 2013 dan secara konsisten menyerukan untuk mempertahankan suku bunga yang sangat rendah. Namun dia juga mengatakan pada Juli BoJ harus “selalu” memikirkan cara untuk keluar dari kebijakan moneter yang sangat longgar.

Pada Jumat (3/2/2023), laporan ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja AS yang diawasi ketat menunjukkan bahwa data penggajian nonpertanian (NFP) melonjak 517.000 pekerjaan bulan lalu. Para ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan kenaikan 185.000.

Dolar melompat lebih tinggi dan menguat pada Senin sore. Terhadap sekeranjang mata uang, mata uang AS menyentuh tertinggi hampir 4 minggu di 103,22 dan terakhir di 103,03. Indeks dolar telah naik 1,1 persen pada Jumat (3/2/2023).

The Fed pada Rabu (1/3/2023) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan mengatakan telah melewati periode sulit dalam perang melawan inflasi, mengarahkan investor untuk memperkirakan di jalur yang lebih dovish ke depan.

Tetapi angka penggajian yang mencolok bersama dengan rebound industri jasa-jasa AS pada Januari membuat investor mempertanyakan bahwa Fed hampir selesai dengan kebijakan pengetatan moneternya.

“Kekhawatirannya tentu saja adalah bahwa data yang jauh lebih baik dari perkiraan adalah berita buruk jika Fed melihat ini sebagai mendukung kasus dua kenaikan lagi dan mempertahankan suku bunga lebih lama,” kata Tapas Strickland, kepala ekonomi pasar di National Australia Bank.

Ahli strategi Citi mengatakan Ketua Fed Jerome Powell dan komite yang lebih luas semakin antusias tentang kemungkinan soft landingdi mana inflasi mereda meskipun pasar tenaga kerja tangguh.

Tetapi laporan Jumat (3/2/2023), kata Citi, seharusnya membuat The Fed lebih khawatir bahwa pasar tenaga kerja terlalu ketat untuk konsisten dengan target inflasi.

Pedagang menilai suku bunga kebijakan Fed mencapai puncaknya di 5,05 persen pada Juni sebelum bank sentral memangkas suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

Juga memperkuat safe-haven dolar adalah meningkatnya ketegangan antara AS dan China setelah jet tempur militer AS menembak jatuh balon mata-mata China yang dicurigai di lepas pantai South Carolina pada Sabtu (4/2/2023).

Euro naik 0,02 persen menjadi 1,0795 dolar. Mata uang tunggal Eropa turun 1,0 persen pada Jumat (3/2/2023) dan menyentuh posisi terendah hampir tiga minggu di 1,07815 dolar di awal sesi.

Sterling terakhir diambil 1,2057 dolar, naik 0,05 persen, setelah menyentuh level terendah satu bulan di 1,2031 dolar pada awal perdagangan Senin.

Dolar Australia naik 0,36 persen menjadi 0,694 dolar AS, sedangkan kiwi turun 0,08 persen menjadi 0,633 dolar AS.