harian-nasional.com/ – — Avalanche (AVAX) merupakan blockchain layer satu, yang digadang-gadang menjadi salah satu pesaing Ethereum.
Jaringan Avalanche memiliki arsitektur yang unik, karena terdiri dari tiga blockchain individu, yaitu X-Chain, C-Chain, dan P-Chain. Setiap rantai (chain) memiliki tujuan yang berbeda. Blockchain Avalanche bahkan menggunakan konsensus yang berbeeda berdasarkan kasus penggunaannya.
AVAX merupakan salah satu aset kripto yang paling terdampak pada winter season 2022. Kandil tahunan AVAX ditutup merah, dengan penurunan sebesar 90%.
Berdasarkan data Coinmarketcap, AVAX menempati urutan ke-17, dengan kapitalisasi sebesar $4.989.893.382, dan memiliki 0,56% dominasi terhadap pasar kripto.
Meskipun pergerakan harga mengalami penurunan, pengembangan utilitas jaringan blockchain tetap dilakukan. Baru-baru ini, Avalanche mengumumkan telah menjalin kerjasama antara Ava Labs dan Amazon Web Service (AWS).
Kerja sama tersebut bertujuan untuk menghadirkan solusi blockchain yang dapat diskalakan untuk perusahaan dan pemerintah. Dalam mencapai hal tersebut, Avalanche meluncurkan fitur infrastruktur baru di AWS, termasuk alat validator untuk kasus penggunaan kepatuhan.
Pengumuman tersebut menjadi fundamental positif untuk ekosistem dan pergerakan harga AVAX. Pergerakan harga AVAX mengalami kenaikan yang tinggi, sebagai bentuk respon terhadap pengumuman tersebut.
Berikut analisa pergerakan harga AVAX berdasarkan candle chart (1D).
AVAX/USDT 1D Binance
AVAX mengalami penurunan sejak Agustus 2022, dan menemukan lantai dari laju bearishnya pada 30 Desember 2022. Harga AVAX turun sebesar 65,27% pada periode tersebut.
Pergerakan harga AVAX melakukan perlawanan terhadap laju bearishnya pada periode 20 Oktober hingga 5 November. Pada periode tersebut, harga AVAX mampu rebound, dan mendorong kenaikan harga sebesar 38,74%.
Sayangnya, usaha untuk membalikan tren negaitf tersebut harus berakhir, karena terkena dampak market crash akibat runtuhnya mantan bursa sentra nomor dua dunia, FTX.
Setelah menemukan lantai dari laju penurunannya pada 30 Desember, pergerakan harga AVAX perlahan naik. Sentimen positif didapat saat laju naik berhasil breakout 20-day exponential moving average (EMA) pada 8 Januari.
Perhatian pelaku pasar semakin tinggi ketika harga AVAX berhasil naik tinggi pada kandil harian pagi ini. Kandil harian AVAX ditutup hijau, dengan kenaikan sebesar 24,59%.
Kandil harian AVAX pagi ini ditutup pada level $15,86, dengan level tertinggi berada pada harga $16,04, dan level terendah berada pada harga $12,25.
Penutupan kandil harian tersebut berhasil breakout falling wedge pattern, yang merupakan lajur bearish pergerakan harga AVAX.
Kenaikan harga AVAX berhasil menyentuh harga tertinggi pada penutupan kandil harian 10 November di level $15,94.
Apabila laju naik AVAX berhasil breakout titik tersebut, maka target naik selanjutnya berada pada level $18,48.
Laju bullish AVAX berpotensi kembali menyentuh harga tertinggi pada penutupan kandil harian 5 November di level $20,63. Tentu saja peluang tersebut bisa saja terjadi, jika aksi beli dan volume perdagangan terus meningkat.
Resistance yang terbentuk pada 13 Desember di level $14,40 beralih fungsi menjadi support terdekat apabila pergerakan harga AVAX koreksi.
Volume Perdagangan
Volume perdagangan AVAX mengalami lonjakan pada penutupan kandil harian 11 Januari pagi ini, ditutup pada level $815.639.199. Jumlah tersebut hampir empat kali lipat dari penutupan volume perdagangan hari sebelumnya, 10 Januari, yang berada di level $230.945.289.
DISCLAIMER : Bukan ajakan membeli! Investasi atau perdagangan aset crypto masih beresiko tinggi. Artikel ini hanya berisi informasi yang relevan mengenai aset kripto tertentu.