6 Efek Samping Konsumsi Vitamin C Terlalu Banyak

harian-nasional.com/ – Ada beberapa efek samping konsumsi vitamin C terlalu banyak yang sebaiknya diantisipasi.

Vitamin C memang sangat penting diasup karena memiliki banyak manfaat kesehatan.

Melansir WebMD, vitamin C utamanya dapat menjaga sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Tapi tetap saja, konsumsi vitamin C sebaiknya dilakukan secara bijak.

Penyakit batu ginjal seringkali ditemukan pada orang dewasa. Namun, apakah anak-anak bisa mengalami batu ginjal?

Pada umumnya, vitamin C aman dikonsumsi dalam dosis tinggi. Namun, beberapa orang mungkin bisa mengalami efek samping jika sampai mengonsumsi vitamin ini terlalu banyak.

Untuk orang Indonesia, pemerintah sudah memberikan kisi-kisi kebutuhan vitamin C sesuai rentang usia, jenis kelamin, dan faktor risiko.

Berikut ini adalah jumlah kebutuhan vitamin C harian yang disarankan menurut Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) RI No. 28 tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia:

Bayi/anak

0-5 bulan: 40 mg (harus bersumber dari ASI)
6-11 bulan: 50 mg
1-3 tahun: 40 mg
4-6 tahun: 45 mg
7-9 tahun: 45 mg

Pria

10-12 tahun: 50 mg
13-15 tahun: 75 mg
16-18 tahun: 90 mg
19-29 tahun: 90 mg
30-49 tahun: 90 mg
50-64 tahun: 90 mg
65-80 tahun: 90 mg
80+ tahun: 90 mg

Wanita

10-12 tahun: 50 mg
13-15 tahun: 65 mg
16-18 tahun: 75 mg
19-29 tahun: 75 mg
30-49 tahun: 75 mg
50-64 tahun: 75 mg
65-80 tahun: 75 mg
80+ tahun: 75 mg

Ibu hamil

Trimester 1: +10 mg
Trimester 2: +10 mg
Trimester 3: +10 mg

Ibu menyusui

6 Bulan pertama: +45 mg
6 Bulan kedua: +45 mg

Pasalnya, selama ini kita mungkin telah sering mendengar ketersediaan suplemen yang sanggup menawarkan dosis vitamin C jauh lebih tinggi daripada itu.

Melansir Mayo Clinic, pada dasarnya, bagi kebanyakan orang dewasa, konsumsi buah jeruk, buah stroberi, lada merah cincang, atau brokoli sudah bisa menyediakan cukup vitamin C untuk hari itu.

Untuk orang dewasa, jumlah harian konsumsi vitamin C yang disarankan memang hanya sekitar 65-90 mg per hari. Namun, perlu diketahui bahwa ada batas atas konsumsi vitamin C yang mungkin bisa ditoleransi tubuh.

Secara umum batas atas konsumsi vitamin C yang dapat ditoleransi adalah 2.000 mg sehari untuk orang dewasa. Sementara, untuk remaja usia 14-18 tahun kurang lebih 1.800 mg vitamin C, anak usia 9-13 tahun 1.200 mg vitamin C, anak usia 4-8 tahun 650 mg vitamin C, dan anak usia 1-3 tahun 400 mg vitamin C.

Batasan ini bisa saja tidak berlaku jika dokter atau ahli gizi menyarankan dosis vitamin C yang berbeda. Beberapa orang mungkin harus mengonsumsi vitamin C dalam jumlah lebih tinggi untuk perawatan medis.

Lantas, apa saja efek samping konsumsi vitamin C berlebihan yang dapat muncul?

Berikut ini beberapa kemungkinannya:

1. Menyebabkan gangguan pencernaan

Melansir Health Line, efek samping yang paling umum dari asupan vitamin C yang tinggi atau berlebih adalah gangguan pencernaan.

Secara umum, efek samping tersebut tidak terjadi akibat mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C, melainkan dari mengonsumsi vitamin dalam bentuk suplemen.

Seseorang kemungkinan besar akan mengalami gejala pencernaan jika mengonsumsi vitamin C dengan dosis lebih dari 2.000 mg sekaligus.

Dengan demikian, batas atas konsumsi vitamin C yang dapat ditoleransi 2.000 mg per hari telah ditetapkan.

Gejala pencernaan yang paling umum dari asupan vitamin C yang berlebihan adalah diare dan mual.

Asupan yang berlebihan juga telah dilaporkan menyebabkan naiknya asam lambung, meskipun hal ini belum sepenuhnya terbukti.

Jika mengalami masalah pencernaan akibat mengonsumsi terlalu banyak vitamin C, seseorang cukup mengurangi dosis suplemen atau hindari suplemen vitamin C sama sekali.

2. Menyebabkan batu ginjal

Kelebihan vitamin C dikeluarkan dari tubuh sebagai oksalat, produk limbah tubuh.

Oksalat biasanya keluar dari tubuh melalui urine.

Tapi, dalam beberapa keadaan, oksalat dapat mengikat mineral dan membentuk kristal yang dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal.

Mengonsumsi terlalu banyak vitamin C berpotensi meningkatkan jumlah oksalat dalam urine seseorang, sehingga meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal.

Dalam sebuah penelitian yang meminta orang dewasa mengonsumsi suplemen 1.000 mg vitamin C dua kali sehari selama 6 hari, jumlah oksalat yang mereka keluarkan meningkat sebesar 20 persen.

Asupan vitamin C yang tinggi bukan hanya dikaitkan dengan jumlah oksalat dalam urine yang lebih besar, tetapi juga terkait dengan perkembangan batu ginjal, terutama jika seseorang mengonsumsinya dalam jumlah lebih dari 2.000 mg.

Kejadian gagal ginjal juga telah dilaporkan pada orang yang mengonsumsi lebih dari 2.000 mg dalam sehari. Namun, kondisi ini termasuk sangat jarang terjadi, terutama pada orang sehat.

3. Menyebabkan kelebihan zat besi

Vitamin C dikenal memiliki fungsi juga untuk meningkatkan penyerapan zat besi.

Zat gizi ini dapat mengikat zat besi non-heme yang ditemukan dalam makanan nabati.

Zat besi non-heme tidak diserap oleh tubuh seefisien zat besi heme, jenis zat besi yang ditemukan dalam produk hewani.

Vitamin C terikat dengan zat besi non-heme, sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Ini adalah fungsi penting, terutama bagi individu yang mendapatkan sebagian besar zat besi dari makanan nabati.

Sebuah penelitian menemukan bahwa penyerapan zat besi bisa meningkat 67 persen pada partisipan yang mengonsumsi 100 mg vitamin C dengan makanan.

Namun, individu dengan kondisi yang meningkatkan risiko penumpukan zat besi dalam tubuh, seperti hemochromatosis, perlu berhati-hati dengan suplemen vitamin C.

Dalam keadaan ini, mengonsumsi vitamin C secara berlebihan dapat menyebabkan kelebihan zat besi yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, hati, pankreas, tiroid, dan sistem saraf pusat.

4. Ketidakseimbangan nutrisi

Dilansir dari Medical News Today, kekhawatiran lain terkait asupan vitamin C yang berlebihan adalah dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memproses nutrisi lain.

Misalnya, vitamin C bukan hanya bisa meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh yang dapat menyebabkan kadar zat besi menjadi terlalu tinggi.

Vitamin C juga dapat menurunkan kadar vitamin B12 dan mineral tembaga dalam tubuh.

5. Menyebabkan bone spurs atau osteofit

Menurut Arthritis Foundation, sebuah penelitian menemukan bahwa kadar vitamin C yang sangat tinggi dalam tubuh dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan bone spurs atau osteofit yang menyakitkan.

Bone spurs adalah tulang yang tumbuh menonjol di sekitar persendian atau tempat pertemuan antara dua tulang.

Di sisi lain, orang dengan kadar vitamin C rendah memiliki risiko lebih tinggi terkena rheumatoid arthritis atau rematik, yakni kondisi sendi inflamasi yang menyakitkan.

Temuan ini menekankan perlunya asupan vitamin C yang tepat, yaitu tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit demi kesehatan.

6. Merusak efektivitas niacin-simvastatin

Bukti menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen vitamin C dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk meningkatkan kolesterol baik atau high density lipoprotein (HDL) pada orang yang menggunakan kombinasi obat niacin-simvastatin.

Obat ini menggabungkan vitamin niacin (vitamin B3) dengan statin simvastatin (Zocor), dan orang meminumnya untuk mengobati kolesterol tinggi.

Dokter menganggap kolesterol HDL sebagai kolesterol baik karena mengurangi jumlah kolesterol berbahaya dalam darah.

Jika mengonsumsi suplemen vitamin C dan niacin-simvastatin, seseorang perlu berbicara dengan dokter tentang cara untuk membuatnya lebih efektif.