Crypto  

3 Kemunduran Utama Sektor Keuangan Kripto di 2022 versi Eksekutif ECB

3 Kemunduran Utama Sektor Keuangan Kripto di 2022 versi Eksekutif ECB

harian-nasional.com/ – Seorang eksekutif Bank Sentral Eropa telah menjelaskan masalah utama dalam keadaan kripto saat ini yang berpotensi memecahkan “gelembung”. Namun, peran kripto dalam keuangan digital kemungkinan akan terus berkembang.

Di tahun 2022, perdebatan yang bermunculan tentang kebangkitan dan kehancuran pasar kripto dipicu oleh sejumlah peristiwa yang tidak menguntungkan. Meski beberapa perkembangan yang menjanjikan berhasil mendukung kemajuan utilitas kripto, runtuhnya pemain besar di sektor tersebut tidak bisa dipungkiri telah membuat publik diterpa ketakutan.

Oleh karena itu, artikel ini akan membahas berbagai topik, mulai dari potensi kripto sebagai masa depan keuangan, sampai tentang beberapa orang yang menyebutnya sebagai “gelembung” yang lambat laun akan meledak. Jadi, bagaimana masa depan keuangan digital secara keseluruhan?

/Terkait

Departemen Kehakiman AS (DOJ) Terpecah Soal Dakwaan Pencucian Uang terhadap Binance

Percepat Adopsi Pound Digital, Inggris Cari Pengembang Dompet CBDC

Ambisi Jadi Pusat Kripto, Inggris Siap Ciptakan Rancangan Regulasi untuk Pembayaran Stablecoin

Bakal Listing di Binance, Harga Token MAGIC Naik Sekitar 80%

5 Indikator On-Chain yang Beri Sinyal Bear Market Bitcoin Segera Berakhir

Sengketa Kasus Dugaan Penipuan Coinbase Berlanjut, Permohonan Banding Diterima

Kripto dan Keuangan

Mengapa aset kripto terlihat begitu menarik? Seperti halnya teknologi baru lainnya, sebagian orang pastinya akan tertarik pada potensinya. Sementara itu, yang lainnya masih perlu waktu yang lebih lama untuk bisa menumbuhkan rasa yakin terkait masa depannya. Bayangkan saja, seperti halnya kondisi internet di tahun ’80-an dan ’90-an silam. Saat itu, tentunya ada suatu masa ketika orang takut untuk berbelanja secara online atau menggunakan bank online.

Namun, siapa sangka kenyataannya sekarang teknologi itulah yang menggerakkan segalanya. Sebagian besar aset kripto bertujuan untuk menjadi mata uang digital yang cepat, murah, dan mudah digunakan, serta dapat diakses oleh siapa saja di dunia dengan koneksi internet.

Di samping itu, banyak pula aset kripto yang terdesentralisasi. Karena itulah, aset kripto semacam itu menjadi tidak terlalu terpengaruh oleh pemerintah pusat. Sehingga, hal ini dapat menjadi alternatif kemandirian finansial bagi banyak orang yang tinggal di yurisdiksi dengan regulasi ketat.

Sampai saat ini, sudah banyak perusahaan Fortune 500; seperti Starbucks, Tesla, Burger King, Coca-Cola, dan masih banyak lagi perusahaan lainnya yang sudah menerima kripto sebagai alat pembayaran. Tidak heran jika aset kripto mulai masuk ke kehidupan sehari-hari sebagai mekanisme pembayaran.

Terlepas dari itu, kripto tetap menjadi sektor ‘niche’ yang akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tetapi, perlu kita catat juga bahwa bahkan evolusi sekali pun dapat berpotensi membawa kemunduran. Hal ini terlihat pada tahun 2022 yang membawa efek domino yang kuat untuk sektor kripto. Nama-nama besar menyebabkan kerusakan yang meluas akibat keserakahan dan praktik bisnis yang curang. Di antaranya termasuk Terra dan stablecoin UST, serta yang terbaru: bursa kripto FTX, yang telah menorehkan dampak ke lebih dari 100 bisnis lainnya pasca bangkrut.

Efek Domino Kripto: Keruntuhan yang Muncul Satu Demi Satu

Salah satu kemunduran utama untuk pasar kripto adalah meningkatnya konektivitas dan dampaknya yang semakin meluas. Akibatnya, kondisi tersebut menimbulkan efek domino.

Salah satu keruntuhan kripto terbesar pertama tahun ini adalah insiden yang menimpa Terra. Sebelumnya, banyak yang menganggapnya sebagai salah satu ekosistem kripto yang paling aman. Tapi, harga token LUNA telah jatuh bersamaan dengan stablecoin yang terkait dengan LUNA, yakni TerraUSD (UST), setelah kehilangan paritasnya terhadap dolar.

Crash ini menimbulkan rantai domino yang menyebabkan munculnya ketidakpercayaan besar-besaran pada industri kripto secara keseluruhan.

Berikutnya adalah Celcius, bursa kripto terkenal dan salah satu perusahaan pemberi pinjaman kripto terbesar. Tapi, setelah kebangkrutan Terra, perusahaan itu juga mulai menyaksikan terjadinya penarikan besar-besaran pada platform-nya. Alhasil, Celsius tidak memiliki kolateral yang cukup untuk mendukung setiap pinjaman dan akhirnya tidak dapat beroperasi kembali.

Setelah Celsius, Three Arrows Capital (3AC) yang juga merupakan perusahaan pemberi pinjaman kripto turut menghadapi masalah yang sama. Insiden yang dialaminya memengaruhi Voyager Capital, perusahaan kripto yang memberikan pinjaman kepada mereka. Mereka semua sekarang mengajukan kebangkrutan dan semakin mengurangi kepercayaan para investor.

Demikian pula dengan runtuhnya FTX pada bulan November yang menyebabkan contagion effect atau ‘efek penularan’ yang menyebabkan lebih dari 100 perusahaan yang terkait dengannya mengajukan kebangkrutan atau mengalami kerugian besar.

Kelemahan Struktural

Meskipun demikian, pasar kripto tetap sangat berpengaruh dan saling berhubungan. Karena tidak begitu banyak yang terkena dampaknya, hal itu bisa berarti bahwa terdapat efek prosiklis yang kuat. Berikut ini adalah contoh singkat untuk mendukung skenario ini:

Beberapa bursa kripto memungkinkan investornya untuk meningkatkan eksposur mereka lebih dari 100 kali lipat dari investasi mereka sebenarnya. Jadi, ketika terjadi keruntuhan atau guncangan, perlu adanya deleveraging. Bursa diwajibkan atau dipaksa untuk melepaskan aset, dan kondisi ini akan memberikan tekanan kuat pada harga kripto, seperti yang terlihat pada grafik di atas.

Sehubungan dengan hal ini, seseorang yang membahas terkait skenario di atas adalah Fabio Panetta, seorang anggota dewan eksekutif Bank Sentral Eropa. Kutipan Panetta saat berbicara di Insight Summit yang diadakan di London Business School pada 7 Desember dibagikan kepada BeInCrypto.

“Dana yang dipinjam dalam satu instansi dapat digunakan kembali sebagai kolateral dalam transaksi berikutnya, memungkinkan investor membangun eksposur yang signifikan. Guncangan dapat menyebar dengan cepat melintasi rantai kolateral dan diperkuat oleh posisi yang dilikuidasi secara otomatis menggunakan smart contract.”

Kemudian, dia lebih lanjut menambahkan bahwa diperlukan lebih banyak dukungan untuk regulasi dalam pasar kripto.

Upaya untuk Mengurangi Risiko

Sejumlah politisi Eropa dan AS telah menyerukan untuk segera menerapkan regulasi kripto, terutama setelah keruntuhan FTX.

Selain itu, Panetta juga mengutarakan pemikirannya terkait perpajakan aset kripto. Khususnya untuk Eropa, langkah berupa memperkenalkan pajak dapat membantu memfasilitasi pembiayaan barang dan jasa.

Misalnya saja, memanfaatkan langkah-langkah pajak dapat mengekang biaya ekstensif energi tinggi yang terkait dengan penambangan kripto. Kemudian, dia mengakhiri pidatonya dengan mengatakan bahwa dia ingin melarang setiap aset kripto yang boros energi serta meninggalkan jejak karbon. Hal ini ia tujukan pada aset kripto dengan konsensus proof-of-work, seperti Bitcoin.

Balancing Act

Narasi dari seorang eksekutif di salah satu bank sentral terpenting di dunia ini layak menjadi hal yang memicu ketakutan bagi mereka yang memiliki sebagian besar kekayaan dalam aset kripto.

Tetapi, di saat yang sama, bukan berarti bahwa sistem perbankan tidak memiliki masalah dan kekurangan sama sekali yang perlu diatasi.

Ketika kita membahas masa depan keuangan digital dan kripto, penting untuk menilai status quo sistem keuangan tradisional. Sebab, perbankan memang mungkin tampak murah bagi orang kaya, tetapi cukup mahal bagi kebanyakan orang.

Laporan dari McKinsey menunjukkan bahwa rata-rata rumah tangga AS menghabiskan US$2.700 per tahunnya untuk layanan perbankan. Dan jumlah ini setara dengan gaji sekitar 3,5 minggu dalam setahun.

Jadi, dalam situasi tertentu, rata-rata orang di Amerika menghabiskan lebih banyak uang atau lebih banyak waktu bekerja untuk membayar hak menggunakan perbankan ketimbang membayar pajak negara mereka.

Sementara itu, keuangan digital dan kripto sendiri menangani dua hal sekaligus dalam sistem keuangan.

Pertama, mengganti biaya kepercayaan (cost of trust) dari lembaga keuangan tradisional. Itulah yang kebanyakan menjadi alasan mengapa perbankan sangat mahal. Seseorang menggunakan perantara tepercaya antara dua pihak, sementara blockchain mendesentralisasikan kepercayaan itu dan memangkas besarnya biaya secara masif.

Mereka juga membantu mengoptimalkan modal kerja untuk bisnis. Saat ini, rata-rata perusahaan S&P menyimpan sekitar 14% dari kasnya di balance sheet mereka. Keuangan digital membebaskan modal kerja ini karena seseorang tidak lagi harus bertransaksi dalam mata uang, sehingga meningkatkan produktivitas uang itu sendiri.

Namun, seiring dengan kemajuan inovasi, dapatkah kripto memainkan peran penting dalam domain keuangan digital?

Bagaimana pendapat Anda tentang kemunduran di sektor keuangan kripto tahun ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!